Pembuatan lokomotif ini berawal saat INKA, memperoleh pesanan Kementerian Perhubungan agar membuat lokomotif yang bisa dibuat dan dirancang di dalam negeri serta tahan banjir.
Selama ini, kereta penumpang dan barang di Indonesia, harus ditarik menggunakan lokomotif yang harus didatangkan dari Amerika Serikat serta rentan mogok saat melewati banjir.
Direktur Utama INKA, Agus Purnomo mengatakan, proyek lokomotif ini merupakan kerja sama dengan Kementerian Perhubungan. Namun dengan pertimbangan sebagai proyek percontohan, maka ada beban biaya pengembangan yang ditanggung oleh INKA. “Duitnya dari pemerintah hampir Rp 30 miliar, INKA ikut bayar juga,” ujarnya di Kantor Pusat INKA, Madiun, pekan lalu.
Pengembangan CC 300 dilakukan sejak 2009. Kini tiga lokomotif berwarna merah menyala itu selesai produksi dan siap diberikan pada pemesan, yaitu Kemenhub. Dua lagi masih dalam pengembangan di bengkel kerja.
Keunggulan lokomotif yang berwana merah ‘menyala” ini antara lain adalah :
1. Anti Mogok di Kala Banjir
Dia mengklaim, lokomotif ini memiliki desain yang memungkinkan untuk melalui rel yang digenangi air. CC 300 memiliki sistem kelistrikan yang menjadi satu dengan penggerak diesel hidrolik. Dengan sistem tersebut, meski rel tergenang air 1 meter, kereta masih bisa melaju. “Ini kan lokomotif tahan banjir, kalau rel banjir bisa terus jalan,” kata Agus.
Di tempat yang sama, Asisten Manajer Bidang Teknologi INKA, Prayitno menjelaskan, dengan mesin diesel hidrolik, lokomotif ini, bisa tahan saat melewati banjir setinggi 1 meter. Hal ini tidak ditemui pada lokomotif sejenis buatan General Elektric, karena kereta asal Amerika Serikat itu, menggunakan sistem elektrik di bagian bawah.
“GE penggeraknya di bawah. Misal buatan INKA kena banjir, gak akan mogok, karena mesin berada di atas. Kalau di bawah, kena air atau banjir maka mesin dapat mati karena konslet,” papar Prayitno.
2. Konsep Double Cabin
Berkonsep double cabin yakni terdapat 2 kabin yang berada di depan dan di belakang lokomotif. Selain itu, masinis tidak perlu memanjat keluar untuk pindah ke kabin belakang atau sebaliknya karena ada penghubung atau ruang kecil kecil yang bisa menyambungkan antar kabin. Hal ini, tidak ditemui pada lokomotif sejenis buatan GE.
3. Dukungan Camera Monitor
Dilengkapi dengan kamera pengintai. Kamera ini, terdapat di sebelah kanan dan kiri lokomotif. Masinis tanpa perlu harus menegok ke belakang, cukup melihat dari layar yang terdapat di dalam cabin, bisa mengamati ke belakang seperti kereta penumpang yang sedang ditarik.
4. Memiliki Pembangkit Listrik Sendiri
Untuk menarik kereta, lokomotif ini juga sudah dilengkapi genset di dalam lokomotif tersebut, sehingga tidak perlu menarik 1 gerbong genset yang biasa terjadi di kereta penumpang diesel umumnya. Listrik dari lokomotif ini, digunakan untuk membangkitkan fasilitas elektronik di kereta seperti pendingin udara dan penerangan.
Hal ini tentunya, bisa menambah daya angkut karena kereta pembangkit digantikan oleh kereta penumpang.
5. Spesifikasi Mesin yang Handal
Lokomotif ini mempunyai panjang 19 m, lebar 2,642 m dan berat sekitar 90
ton. Kecepatan maksimalnya adalah 120 km/jam, power outputnya adalah
2500 HP dan memiliki traction effort sebesar 270 kN untuk starting.
Mesinnya memakai mesin diesel Caterpillar dengan transmisi hidrolik
Voith Turbo Transmission L620reU2. Sistem pengereman memakai produk
Wabtec, master controller memakai produk Woojin dari Korea Selatan, juga
dilengkapi dengan genset CAT C18 dari Caterpilar sehingga tidak
memerlukan kereta pembangkit jika menarik rangkaian kereta penumpang.Sayang nya untuk yang terakhir ini, kecuali bodi lokomotif, maka untuk mesin belum ada yang made in INKA atau Indonesia.
Agus menuturkan tiga lokomotif yang sudah rampung tersebut, saat ini sedang menjalani uji kelaikan agar memperoleh sertfikasi dari Kementerian Perhubungan. Untuk membuat satu lokomotif tersebut, perusahaan harus merogoh kocek sekitar Rp 20 miliar
Agus menjelaskan, lokomotif ini dilengkapi dengan kamera khusus yang bisa memonitor sisi kiri dan kanan lokomotif serta rangkaian gerbong di belakangnya.
“Dilengkapi pendingin udara sehingga mebuat masinis nyaman. Selain itu, masinis kalau pindah ke antar kabin tidak perlu keluar tapi cukup lewat pintu belakang tanpa harus keluar lokotif. Ada di kanan dan kiri,” tambahnya.
Saat ini, INKA telah merampungkan 5 lokomotif dengan model Loko GH 2200 Horse Power pesanan Kemenhub. Saat ini, lokotif sedang menjalani uji kelayakan untuk memperoleh sertfikasi dari Kemenhub. Untuk setiap lokomotif berbahan solar ini, INKA menjualnya dengan harga kisaran Rp 25 sampai Rp 30 miliar.
INKA tidak menutup kemungkinan bakal menawarkan desain CC 300 ke pembeli luar negeri, khususnya kepada negara yang memiliki persoalan banjir. Lokomotif serupa bertenaga 2.200 tenaga kuda (HP) buatan Amerika atau Eropa, rentan mogok saat menghadapi air bah. “(CC 300) memang kita tawarkan ke luar negeri,” ucapnya.
Terus berkarya PT INKA.
Salah satu syarat negara maju adalah apabila mesin-mesin
transportasi nya adalah buatan dalam negeri. Seperti mobil, motor,
kereta api, kapal laut dan pesawat terbang.
Dan sejauh ini, negara Asia Tenggara yang telah memiliki kemampuan untuk membuat semuanya, hanyalah Indonesia.
Malaysia hanya unggul dalam membuat mobil, namun mereka begitu
total mengembangkan industri otomotif nya, sehingga mulai dari pemasaran
mobil, BBM dan Pelumas serta pembangunan dan penggunaan sirkuit balap
mobil berkelas dunia betul-betul saling bersinergi menghasilkan produk
berkelas dunia.
Yang kurang dari Indoensia hanyalah fokus dan dukungan total dari
berbagai pihak terkait, terutama Pemerintah Indonesia sendiri beserta
rakyatnya.
We partner in blogger: http://daffarailfanstlogosarisemarang.blogspot.com/




0 comments:
Post a Comment